Hamburkan ADD, Perangkat Desa Studi Banding ke Bandung

oleh
633 Kali Dibaca

MERANGIN – Pasca para Kepala Desa (Kades) melakukan Bimbingan Teknis (Bintek) ke Bali beberapa waktu lalu, kini giliran Anggaran Dana Desa (ADD) yang terkuras. Informasi yang dihimpun, pihak desa mengelontorkan dana untuk memberangkatkan para Perangkat Desa guna studi banding ke Bandung.

Alokasi tersebut cukup besar, perorangnya dibanderol Rp 5,5 Juta, dengan rincian Rp 1 Juta uang saku peserta dan Rp 4,5 Juta untuk biaya selama melakukan studi banding. Diperkirakan, saat ini sebanyak 40 perangkat desa yang sudah mendaftarkan diri guna mengikuti Studi Banding ke kota Kembang Bandung. Artinya ada sekitar Rp 220 Juta ADD yang terkuras untuk kegiatan yang dikoordinir oleh Forum Kades Merangin.

Informasi yang dihimpun, ada sebagian para perangkat desa yang sudah melaksanakan studi banding di gelombang pertama yang berakhir pada 5 November 2017 lalu. Sedangkan untuk keberangkatan pada gelombang ke dua direncanakan pada tanggal 13 November 2017.

Dibincangi, Berita Ville.com Ketua Forum Kades Merangin, Fuad tidak menampik informasi tersebut. Untuk studi banding perangkat desa ini, disebutkannya baru sekitar 40 peserta yang mendaftarkan diri untuk ikut dalam studi banding ini.

“Iya, itu untuk perangkat desa sasarannya ke Bandung. Saat ini baru 40 orang yang sudah mendaftarkan diri,” kata Fuad yang juga menjabat sebagai Kades Karang Birahi Kecamatan Pamenang Barat. Diuraikannya keberangkatan studi banding ini akan berlangsung selama tiga hari. Memang pihak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) belum mengetahui kegiatan ini. Sebab ini hanya kebijaksanaan para Kades guna melakukan penyegaran bagi perangkat desa. Apakah hal ini hanya menghamburkan ADD? Fuad membantah hal itu, sebab ia menilai alokasi dana untuk Studi Banding ini cukup kecil. “Disana kan perangkat desa bisa mempelajari mengenai APBDes. Kalau menghamburkan uang saya rasa tidak juga, yang lain lebih dari pada itu,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan dipilihnya kota kembang Bandung sebagai lokasi studi banding ini lantaran memiliki kelembagaan yang cocol. “Bagi saya, yang penting itu tidak melanggar Undang-Undang, selaku Ketua Forum Kades ya monggo saja. Tapi kalau bertentangan dengan aturan ya jangan,” sebutnya. (boy/coy)

Redaktur : Fia-24